Badan Reintegrasi Aceh (BRA) mendanai pertemuan aktivis perdamaian se-Aceh yang diinisiasi Lathifa Foundation dan akan dilaksanakan pada 23 Januari 2010. Seorang kawan yang diundang menjadi narasumber mendapat kabar reuni itu akan menghadirkan sebagian besar pemuka aktivis mahasiswa orde-98.
Maka saya membayangkan lantai II Gedung Utama Taman Sari Kota Banda Aceh yang dipilih sebagai tempat pertemuan itu akan menggema koor Hikayat Prang Sabi Prang Sabi. Karena hikayat itu telah menjadi penyumbang energi utama yang membangkitkan gelora massa mahasiswa. pada pagi Sabtu (23/1) depan, saat acara dimulai. Setidaknya untuk menghadirkan suasana jiwa sepuluh tahun lalu, ketika aksi-aksi protes jalanan yang mereka gelorakan untuk melawan tirani negara, telah berhutang jasa pada Hikayat
Hikayat Prang Sabi tidak selalu harus dipahami sebagai karya sastra perang dan hanya sesuai dibaca dalam masa perang. Lebih dari itu, hikayat yang ditulis di atas kapal dalam perjalanan pulang Tgk Chik Pante Kulu dari Jeddah ke Aceh itu mengandung pesan mobilisasi spirit perlawanan terhadap segala bentuk kekuatan tiran, penindas dan kolonial yang menistakan harga kemanusiaan.
Itu juga yang dipahami oleh aktivis mahasiswa orde-98. Meskipun mereka selalu melantunkan Hikayat Prang Sabi sepanjang aksi-aksi protes yang digelar, tetapi itu tidak dimaksudkan untuk mengajak siapa pun mengangkat senjata. Dengan gema hikayat itu, para aktivis menuntut pencabutan DOM dan operasi-operasi militer terselubung lainnya yang digelar TNI/Polri. Dan sambil melantunkan hikayat itu juga mereka menuntut dihentikan perang bersenjata TNI-GAM.
Di tangan mahasiswa, karya sastra perang termasyhur itu diperlakukan secara berbeda, bukan untuk mengobarkan perang tapi justru untuk memperjuangkan penghentian perang. Para pihak dituntut meninggalkan segala bentuk kekerasan dan pelanggaran HAM. Dan pertikaian politik Aceh-RI harus diselesaikan secara damai dan demokratis.
Pastinya, berbekal Hikayat Prang Sabi pula para pejuang mahasiswa itu memiliki imajinasi yang berbeda tentang konsep perdamaian bila dibandingkan dengan perspektif para aktivis NGO yang bekerja pada isu perdamaian. Aktivis mahasiswa Aceh memimpikan perdamaian yang dibangun berbasis pada kepentingan nasional Aceh. Kepentingan nasional Aceh harus menjadi frasa kunci setiap kali para pihak berpikir untuk menciptakan dan mengabadikan perdamaian di Aceh. Frasa itu mengilhami jiwa aktivis mahasiswa Aceh dari sumber mata air ideologi bernama Hikayat Prang Sabi.
Sepanjang 1998-2005, gerakan mahasiswa kita tidak pernah luput mengikatkan diri mereka pada kepentingan nasional Aceh. Bahkan di kalangan mereka yang dianggap kiri (marxisme) sekalipun, tidak juga membasiskan gerakan mereka pada isu buruh, petani atau sektor lainnya dari profesi rakyat miskin Aceh. Semua anasir beroperasi dalam kerangka kerja besar, merealisasikan kepentingan nasional Aceh.
Satu-satunya kesalahan fatal mahasiswa kemudian adalah menyerahkan sepenuhnya tafsir atas kepentingan nasional Aceh kepada pemimpin-pemimpin GAM yang merundingkan masa depan Aceh dengan pihak RI di Helsinki 2005 lalu. Padahal, mengikut Yusra Habib Abdul Gani, tafsir beberapa pimpinan GAM itu sama sekali tidak merepresentasikan kehendak politik bangsa Aceh yang setia pada cita-cita revolusi. Terutama tidak merepresentasikan kehendak politik dua juta rakyat Aceh peserta Sidang Umum Masyarakat Pejuang Referendum.
Tetap Anti-perang
Kesalahan itu harus ditebus bersama untuk masa waktu yang lama dan akan melibatkan lintas orde mahasiswa. Berapa lama pun waktu yang diperlukan, hal terpenting dipikirkan adalah konsistensi pada manhaj gerakan mahasiswa yang anti perang dan segala bentuk kekerasan. Perjuangan kepentingan nasional Aceh harus tanpa perang bersenjata.
Belajar dari pengalaman kita kini, perang hanya menciptakan lapangan kerja bagi mafia senjata, dari kalangan musuh dan dari para pejuang sendiri. Perang dua belas tahun terakhir selain berhasil membunuh penduduk gampong-gampong, juga berhasil membesarkan para pedagang senjata dari kalangan pejuang kemerdekaan nasional Aceh menjadi tokoh-tokoh politik dan pemilik modal generasi baru. Perang, seperti pandangan Kant, ongkos terbesarnya merusak mental dan peradaban.
Tugas terberat kini bagi mahasiswa dan kekuatan sipil Aceh secara keseluruhan, untuk meyakinkan rakyat bahwa Aceh tidak lagi membutuhkan perang untuk selamanya. Bahkan sekalipun demi perwujudan independensi dan hilangnya ketergantungan pada RI, perang tetap jalan tersesat yang harus dihindari.
Rakyat Aceh patut mempertimbangkan salah satu wasiat Imam Khomeini kepada bangsa-bangsa tertindas di dunia, ”bahwa jika sebuah bangsa menginginkan hidup tanpa ketergantungan, bangsa itu pasti akan mampu melakukannya.” Banyak bangsa telah membuktikan ini bisa dilakukan tanpa senjata.
Lalu apa yang akan dibicarakan oleh para aktivis perdamaian Sabtu (23/1) depan di Taman Sari? Jika karena kehadiran mantan aktivis mahasiswa di sana mencapai separuh jumlah peserta lalu mendorong mereka melantunkan Hikayat Prang Sabi pada pembukaan acara, maka tentu saja tema bahasan berikutnya tidak tiba-tiba menggosip soal gaji sebagian mereka di Tim Asistensi Gubernur mencapai puluhan juta, atau soal peluang bisnis tambang mas dijual ke investor asing, atau kekuasaan masing-masing yang sangat berpengaruh dalam struktur pemerintahan di Aceh.
Pastinya mereka akan membicarakan apa yang disumbangkan oleh perdamaian saat ini terhadap kepentingan nasional Aceh yang mereka perjuangkan sepuluh tahun terakhir, yakni kebutuhan pada independensi dan kesungguhan melayani 4,2 juta penduduk Aceh kini yang hampir separuhnya memprihatinkan. Jika hal ini dilupakan, tunggu saja para aktivis mahasiswa generasi kini yang sedang menuntut lengsernya Irwandi Yusuf dari jabatannya, mereka dapat mengubah rute aksi jalanan Sabtu (23/1) depan, dari Lampineung ke Taman Sari.
Oleh Affan Ramli, anggota perkumpulan Prodeelat



