HARIAN ACEH. COM

Friday
Jul 30th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Banda Raya Banda Aceh Tasbih Sang Raja yang Terluka

Tasbih Sang Raja yang Terluka

Butiran tasbih di tanganmu telah aus warnanya, semoga dosamu pun aus sepertinya. Begitu kata Dek Nong yang iba pada seorang ustad yang taat pada Tuhannya.

Dek Nong memang suka iba pada siapa saja, tapi ia tidak suka mengiba-ngiba seperti seorang raja yang terluka. Raja itu menangis tapi terdengar seperti erangan. Tangisannya bisa ditanggapi macam-macam. Bagi orang yang tak kenal dia, orang itu akan menilai betapa hebatnya sang raja yang ditakuti karena ia murka.

Bagi orang yang kenal raja, maka orang itu ikut iba seperti Dek Nong. Orang itu iba karena tahu bahwa sang raja yang terluka itu menangis tapi dianggap murka. Lalu pertanyaan Dek Nong, mengapakah sang raja yang terluka itu menangis?

Konon, di tahun tak bertangal di hari yang lupa apa namanya, tersebutlah sang raja itu di negeri tak bertuan, tepatnya di kampong tak bernama. Dalam tangisnya sang raja memaki lawannya dengan makian terbaik dan terhebat yang pernah ia buat.

 

Sang raja itu begitu santun dan bijak, karena ia memang raja bijak dan memihak pada rakyat banyak. Nah, dialah sang raja paling adil di muka bumi, mungkin seperti adil dan bijaknya para nabi. Tepatnya sang raja boleh disebut nabi pembawa berita terjujur di dunia.

Sang raja yang terluka karena ia tak punya apa-apa lagi untuk membela diri, akhirnya bisa membenci dan memaki seraya menangis meronta-ronta dan berguling di tanah berdebu di halaman kantor yang baru saja dibangun.

“Mampus kau, sudah kuhajar dia!” teriak sang raja meniru musuhnya saat ia dipecundangi. Ia dikalahkan seperti Napoleon Bonaparte dikalahkan karena tidak tahu medan. Ya, sang raja kalah strategi karena ia tidak tahu siapa yang merancang perang yang tengah ia hadapi.

Raja itu baru saja kalah perang. Dia kalah karena menganggap lawannya kecil. Namun ia salah prediksi, ia tidak tahu siapa yang ia hadapi dalam perang tersebut. Ia menyangka menghadapi lawan seperti dalam perang-perang yang pernah ia menangkan.

Namun kali ini sang raja yang terluka itu kalah. Ia telah dikalahkan oleh kecerdasannya sendiri. Makanya ia menangis yang tangisannya terdengar sampai ke penjuru negeri, bahkan ia menulis ribuan eksemplar tangisannya di kertas terbaik di kerajaan tak bernama itu.

Sang raja mengharap dengan menulis tangisannya, ia akan sedikit terhibur karena ada orang yang tahu bahwa ia terluka. Maka berterima kasihlah pada maop. Karena maop telah membawa kabar kepada sang raja terbijak di negeri terbaik.

Konon, sang raja itu kini menanti hari-harinya yang akan dijadikan pesakitan oleh sebuah mahkamah yang tidak bernama juga. Namun ada kabar dari selatan, bahwa sang raja yang terluka akan dibela oleh beberapa raja yang suka merampok.(thayeb loh angen)