Tapi akhir-akhir ini citra Amanruf sedikit terpuruk. Terutama sejak kedatangan pengunjung baru di warung kopi Bang Lah, Amanruf malah jadi pendengar setia dan sangat pasif. Entah dia terlalu kagum, kehilangan kata-kata atau minder.
Namanya Lan, lengkapnya Lan Smit, diambil dari nama pebulutangkis tempo dulu Alan Budi Kusuma dan nama pakar ekonomi barat Adam Smith. Tapi jangan tanya masalah ekonomi sama dia, dia sama sekali tak mengerti selain uang buat bayar kopi. Apalagi bila disuruh main bulu tangkis, sungguh-sungguh tak mampu itu orang. Kemahirannya cuma satu, ingin dikatakan dia tukang.
“Omongan orang-orang sekarang sungguh tak ada faedahnya. Di mana duduk, kerjanya bilang untuk orang saja. Macam Apa Syam yang duduk di pojok sana,” katanya sambil bisik-bisik.
”Cobalah kau dengar dia ngomong, macam dia orang yang paling benar di dunia ini. Suka sekali menjelek-jelekkan orang lain, padahal dia sendiri buruknya minta ampun. Tahu tak kalian, dia itu pernah digerebek sama WH. Istrinya di mana-mana, dan minta ampun lagaknya macam selebritis saja. Dulu dia juga pernah menipu anak gadis orang, tahu tak kalian, dengar-dengar dia pernah menyantet si Rahmi karena tak mau kawin dengannya.”
Amanruf yang merasa ketinggalan berita jadi tak menentu duduknya, ia benar-benar telah disaingi.
“Kita itu hidup yang wajar-wajar saja, tak usahlah cari masalah dengan mengata-ngatain orang seenaknya, seperti wartawan, suka sekali menceritakan yang jelek-jelek. Apa gunanya sih membongkar aib orang lain?” Suara Lan Smith membumbung tinggi. Amanruf kena lagi, mukanya merah kali ini.
“Kalau aku sih tak suka membicarakan orang lain, macam Apa Syam itu. Kalau kau dengar dia ngomong, entah apa-apa dibilangnya. Dia bilang geuchik gampong kita makan uang haram, padahal dia juga pernah ikutan makan uang suap saat pembebasan lahan warga. Dia itu tak lebih dari tikus got. Lebih rakus dari tikus berdasi.” Lan Smith menyeruput kopinya lagi.
“Aku paling tak suka orang yang suka ngomongin orang lain, apalagi mengata-ngatai, walaupun benar orang yang kita gosipin seperti itu, untuk apa kita ikut campur. Tapi Apa Syam itu suka sekali ikut campur urusan orang lain.”
“Oh ya, urusan siapa yang ia campuri, kok aku tak tahu?” Amanruf angkat bicara, ia penasaran juga.
“Ah masa kau tak tahu, dia kan suka sekali bicara ke sana kemari kalau si anu terlibat korupsi, macam waktu si Dahlan korupsi.”
“Dahlan, yang kerja di kantor camat itu?” tanyaku pula, ini sungguh berita baru bagiku, karena si Dahlan itu sebenarnya juga temanku.
“Iya, si Dahlan itu masih ingusan sudah belajar korupsi. Tak tahu malu memang dia itu, rugi orang tuanya guru mengaji, kalau akalnya seperti itu.
Sudah itu bicaranya sok lembut dan bersahaja macam dibuat-buat, ah jijik aku mendengarnya. Sudah itu, dia juga suka omongin untuk orang, seakan-akan dialah orang yang mulia di dunia ini. Aku benci sekali tipe orang besar mulut.”
Kawan, kini aku benar-benar bingung julukan apa yang pantas disandangkan untuk si Lan Smith. Tapi Amanruf berhasil menjawab tanya dalam hatiku.
“Lan Smit, kau memang luar biasa, aku dapat julukan baru untukmu, tukang gossip para penggosip, ha…ha…ha…” Amanruf senang bukan kepalang, Lan Smith meledak marahnya.
“Sembarangan kamu bicara, aku tak suka menggosip, bahkan aku benci orang yang suka menggosip. Apalagi wartawan seperti kamu, hanya bisa memberitakan hal-hal buruk saja, tulisanmu sama sekali tak punya etika dan rada-rada seperti setan alias jen, apalagi Koran Hantom Salahmu itu. Aku tak suka kalau ada orang yang bicara kejelekan orang lain, seperti Apa Syam yang suka kawin siri itu.”(desi rinasari)



