Esoknya ia mulai gencar menghadang Amanruf di simpang jalan Kantor Geuchik yang berbatu-batu itu. Hal yang sama dilakoni Manoawarah berulang kali. Bahkan akhir-akhir ini malah lebih sering, yakni tiga kali sehari. Hingga hidung Amanruf kembang kempis.
Setiap kali menghadang Amanruf, Manowarah selalu memaksa Amanruf mendengar kisahnya. Ia bercerita panjang lebar tentang musibah yang menimpanya. “Kisahku lebih menyedihkan dari Manohara,” katanya dramatis.
Usut punya usut, ternyata ia sangat iri pada ketenaran Manohara. Sebagai korban KDRT, ia merasa punya hak yang sama, dipromosikan, terkenal, dan main sinetron. Bagi Manowarah, dilibat dalam film-film Aceh yang plagiat (jipalkan) itu juga tak masalah.
Tapi Amanruf bengong saja. Ia sama sekali tak ada rencana meliput kasus begituan. Paling tidak, tidak untuk hari itu dan bukan kisah Manowarah.
“Kau tulislah Amanruf, jangan bengong seperti itu,” paksa Manowarah.
Dengan malas ia mengambil buku dan bolpoinnya. Ia mencatat seadanya keluh kesah Manowarah tentang penyiksaan yang dilakukan suaminya, Said Fauzi, toke kerupuk muling level kecamatan itu.
“Kau harus promosikan aku terus-menerus agar aku bisa terkenal seperti Manohara.”
“Ha…ha… Ada-ada saja kau, mana bisa kau samakan dirimu seperti Manohara.”
“Apanya yang beda, aku juga mengalami hal yang sama dengannya. Aku juga seorang perempuan yang pernah disekap suamiku, disiksa, dan hidup bagaikan dalam sangkar emas. Apa bedanya.”
“Benar Amanruf, tak ada yang beda, bahkan kisah Manowarah kedengaran lebih dramatis dari kisah Manohara,” kataku menimpali.
Akhirnya Amanruf setuju mengangkat kisah Manowarah. Tapi Manowarah tak puas dan lagi-lagi menghadang Amanruf.
“Beritaku sudah beredar beberapa hari yang lalu, tapi kenapa tak ada yang membicarakanku, tak seorang wartawan gosip pun mencariku, rumah produksi pun tak ada yang mengontrakku untuk syuting, padahal aku butuh sekali uang.”
“Sudahlah Manowarah, mungkin kau kurang cantik, lagipula suamimu bukan pangeran, dia hanya seorang toke kerupuk muling, tentu saja orang tak tertarik. Kalau kau mau terkenal melebihi Manohara, menikahlah dengan raja minyak dari Arab. Suruh ia menyiksamu, kujamin, setelah itu kau akan jadi bintang. Tapi jangan lupa kau rebonding dulu rambutmu, nanti kau malah dikira TKI pula.”(desi rinasari)



