HARIAN ACEH. COM

Friday
Jul 30th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Opini opini Fobia Buku Aceh “Pungo”

Fobia Buku Aceh “Pungo”

Akhir Februari 2009 lalu, Bandar Publishing Banda Aceh menerbitkan buku terbarunya dengan judul nakal, Aceh “Pungo”. Saking nakalnya, beberapa toko buku di Banda Aceh tidak berani memamerkan buku tersebut. Sebagian toko memilih menjualnya secara diam-diam ketika ada pelanggan yang memintanya. Sebagian toko lain justru menyuruh pelanggannya untuk membeli buku itu di toko buku lain saja. Ada pula pemilik toko yang berujar, “Buku ini dilarang beredar”. Aneh bukan? 

Terakhir, toko A (bukan nama sebenarnya) yang sebelumnya paling khawatir sudah mengeluarkan buku karya Taufik Al Mubarak dari sarangnya, tetapi diletakkan pada posisi yang sama sekali tidak menguntungkan secara penjualan. Ini tidak lazim bagi sebuah buku teranyar.

Biasanya, setiap ada buku terbaru, pemilik toko akan meletakkannya pada tempat khusus sebagaimana pengalaman kami terhadap buku-buku sebelumnya, agar mudah mendapat perhatian pelanggan. Kelihatannya buku Aceh Pungo mengundang kekhawatiran pemilik toko bakal terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Hal itu tak terlepas, karena judul buku yang terkesan sangat menohok dan cenderung provokatif. Demikian ngeri-kah buku yang berwarna hitam gelap itu? Padahal toko buku yang cerdik akan memanfaatkan judul buku yang punya nilai jual untuk mengeruk keuntungan. 

Sikap pemilik toko buku seperti yang kami utarakan di atas merupakan gambaran sikap masyarakat kita secara keseluruhan ketika menyikapi sebuah isu. Mereka cenderung reaktif tanpa ada usaha untuk cross check kebenaran isu. Senang berpikir negatif daripada positif. Menggandrungi claim daripada menganalisis. Lebih senang mereka-reka isi sesuatu daripada mencari kebenarannya. Padahal banyak cara menuju Roma (kebenaran). Kata orang tua, boh jok, boh beulangan, watee geujok, baro taboh nan. Hadih Maja tersebut menyuruh kita untuk cari tahu kebenaran sesuatu. Jangan asal percaya, atau takut pada sesuatu yang belum jelas wujudnya seperti apa.

Terkait dengan buku Aceh “Pungo”, kami ingin bertanya apa yang tergores dalam pikiran pemilik toko ketika mengeja judul buku itu? Apakah judulnya merupakan bentuk penghinaan terhadap orang Aceh? Sehingga akan mendatangkan kemarahan? Apakah kosakata “pungo” dalam Bahasa Aceh cuma memiliki satu makna? Tidak pernahkah kata tersebut mengalami pergeseran makna sebagaimana kosakata “gila” dalam Bahasa Indonesia? 

Bandingkan dua kalimat berikut ini: “Orang itu gila”. “Kemarin sore, Persiraja Banda Aceh gila mainnya”. Pertanyaan, apakah “gila” pada kalimat pertama memiliki makna yang sama dengan “gila” pada kalimat kedua? Jawabannya tentu tidak. Begitu juga halnya dengan kosakata “pungo” dalam Bahasa Aceh. Umpamanya, “Si Alu nakeuh ureung pungo paleng meucuhu di Darussalam”. “Irwansyah cukop pungo ji sipak bola, sampe leungo tiang gawang”. Silakan anda memberi komentar terhadap makna “pungo” pada dua kalimat tersebut. 

Kami salut kepada salah satu toko langganan kami di Jalan Muhammad Jam Banda Aceh. Karena penasaran dengan judulnya, ternyata dalam semalam, ia melahap semua isi buku. Keesokan harinya, ia berkomentar, hayeue that buku drouneuh (Bandar Publishing). Abeh ku baca beuklam. Dan komentar senada tidak datang dari satu orang. Ternyata setelah dibaca buku tersebut tidak mengundang kemarahan pembaca, tapi justru mendatangkan kepuasan batin baginya. 

Mengapa demikian? Karena yang bersangkutan sudah tahu apa makna kosakata “pungo” dalam buku tersebut. Satu hal yang penting, membaca buku ini haruslah dimulai dari A-Z. Jangan sampai ada yang terlewatkan, apalagi melewatkan tiga kata pengantar yang tersaji di dalamnya. Sebab, keseluruhannyalah yang akan membawa anda pada pemahaman yang utuh tentang Aceh “pungo” yang kami maksudkan. Kalaupun setelah membaca buku ini kemarahan muncul, itu pasti karena anda merasa dikritik oleh pengarangnya. Beberapa tulisan dalam buku ini memang merupakan kritik sosial. Tapi, no problem. Sebab kritiknya sangat konstruktif. Ia dapat berfungsi sebagai penyadaran bagi maf’ul (objek) kritik. Bukan pembunuhan karakter.  

Jika anda orangnya lurus-lurus saja, buku ini akan membuka mata anda untuk melihat bagaimana realitas ke-Acehan dulu dan hari ini. Ada hal-hal penting dari kita (Aceh) yang sudah terlupakan. Bahkan karakter kita sebagai orang Aceh sebagiannya sudah demikian jauh bergeser. Dari segi bahasa misalnya, dalam buku ini, anda akan menemukan beberapa kosakata Aceh yang sudah lama tidak anda dengar. Sebagian dari kita barangkali memang tidak pernah mendengarnya sama sekali. Apalagi mengetahui makna kosakata tersebut. Orang Aceh sejati pasti merindukan bahasa khasnya. Buku ini akan membuat anda bernostalgia dengan kosakata, idiom, maupun bahasa Aceh ahlul qaryah (orang desa) yang tulen. Kami yakin anda akan salut pada cara penulisnya mengulas sebuah topik dan keberaniannya dalam mengkritik. Qul haqqan walau kana murran. Begitu kata pengarangnya sekali waktu, berfilsafat. 

Bukankah anda juga memiliki unek-unek, tapi tidak punya cukup keberanian untuk mengutarakannya secara blak-blakan ke khalayak ramai? Buku ini sesungguhnya menyampaikan apa yang ingin anda sampaikan. Taufik Al Mubarak menyampaikannya dengan bahasa ringan dan santai. Sesekali meledak-ledak. Wajar, penulisnya masih berdarah muda. Ide-ide yang tidak menarik bagi sebagian orang, mampu dibuat bermakna oleh pengarangnya. Bahkan sesekali anda akan dibuat tersenyum atau tertawa renyah oleh pikiran-pikiran gilanya. So, jak beutrouh, kalon beudeuh, bek rugoo meuh, saket ate. Datang, lihat, dan buktikan!

Jadi, jangan takut untuk membeli, apalagi takut menjual bukunya. Hadapilah buku tersebut dengan tenang. Tidak baik menonjolkan emosi. Kami persilakan pembaca menikmati dan menganalisisnya secara tajam. Sudah selayaknya kita dewasa untuk mampu bangkit dari berbagai keterpurukan yang melanda. Kita tinggalkan sikap reaktif. Mari kita ke-depan-kan logika untuk menganalisis ragam isu dan persoalan yang ada di sekeliling kita. Pasang mata yang awas, hati yang luas, pikiran yang logis, pendengaran yang tajam, pandangan jauh ke depan, tindakan yang tepat sasaran. Semua hal itu akan mengantarkan kita menjadi masyarakat yang berperadaban. Masyarakat yang menghargai pikiran, ilmu, dan pencerahan dari orang lain. Siapapun dia. Warna apapun dia. Dari rahim manapun dia. Toh, semua kita berasal dari spesies yang sama, Adam, jika enggan menyebut dari tanah. Tidak ada rahim manusia yang berdindingkan emas. Semua kita dibelai oleh ketuban racikan Tuhan. Tak ada belaian selembut belaian ketuban dalam rahim bunda kita. Kenapa tidak berusaha membelai orang lain? Se-pungo apapun idenya, apalagi untuk ide-ide yang mencerahkan. Jadi, jangan sampai anda mengidap penyakit fobia buku Aceh Pungo?

Oleh Lukman Emha, Manager Bandar Publishing Banda Aceh

 
We have 99 guests online